Jakarta, 10 November 2020

Tulisan oleh: Rial Hayat, Relawan RuangDamai.id, Pegiat Lingkungan.

RuangDamai.id mengadakan kegiatan webinar yang bertajuk #AksiBaik untuk Bangsa dalam rangka merayakan Hari Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan. Seminar yang dibuat secara daring itu mengangkat isu mengenai perubahan perilaku anak muda terhadap perubahan iklim. Pembicara yang diajak juga dari kalangan pegiat isu lingkungan, Taufik D.S (Founder Komunitas Ciliwung Depok), Nathasi Fadhlin (Founder Semesta Mangi Lestari), dan Andi Pananrang (Community Officer #SayaPilihBumi dari National Geographic Indonesia).

Pembicara diajak bercerita tentang aktivitas dari komunitas mereka dan dampak apa yang berpengaruh terhadap perilaku anak muda saat ini. Diskusi dipandu oleh Rial Hayat, relawan RuangDamai.id dan seorang pegiat lingkungan juga. Taufik D.S, bercerita bahwa sungai Ciliwung merupakan tempat bermainnya saat kecil bersama teman-temannya, “banyak nostalgia masa kecil kalau kita bicara mengenai Ciliwung, dahulu kami (Taufik, dkk) sering bermain di Ciliwung dan mandi disana, namun kini sedih melihat Ciliwung yang semakin kotor”, tambahnya.

sumber Youtube : https://www.youtube.com/watch?v=8JR1vlv5ryE&feature=youtu.be

Sungai Ciliwung merupakan sungai yang membentang dari Selatan hingga Utara Jakarta itu kondisinya memang sangat memprihatinkan, dimana banyak sampah rumah tangga (sisa makanan, plastik, dll.) yang dibuang ke Ciliwung mengakibatkan Ciliwung semakin kotor. Perilaku manusia khususnya anak muda yang menjadikan Ciliwung sebagai tempat sampah belakang rumah membuat kondisi semakin parah ketika musim penghujan tiba.

Andi Pananrang menjelaskan bahwa setiap hari tak kurang 7-8 ton sampah per hari (sumber: KLHK) diangkut dari Ciliwung. Hal ini yang menurutnya harus kita ubah. Perilaku kita yang menjadikan Ciliwung sebagai halaman belakang harus kita ubah, kita harus jadikan Ciliwung halaman depan rumah kita sehingga kita menjaga dan melestarikan Ciliwung bagi genarasi yang akan datang. Andi juga menyebutkan bahwa kota-kota besar dunia itu menjadikan sungai sebagai masuknya peradaban dan jalur perdagangan, namun di kita belum sampai kesana, masih sedikit sungai-sungai kita yang manfaat dengan baik. “Kita harus mencontoh kota-kota modern dunia yang menjadikan sungai sebagai jalur masuk peradaban dan perdagangan” imbuhnya.

Gambar : Pencemaran Lingkungan

Disisi lain, Nathasi Fadhlin bercerita bahwa sampah juga menjadi kendala ketika mangrove yang mereka tanam mati karena banyaknya sampah yang melilit dan menutupi mangrove untuk bertumbuh dan berkembang.
Nathasi dan rekan-rekannya memang sering menanam mangrove di pesisir teluk Jakarta.
“Kami tanam mangrove, karena ekosistem mangrove besar manfaatnya selain menahan laju abrasi dan berkembang biaknya ikan, juga menyerap karbon lebih besar daripada pohon biasa di daratan”, cerita Nathasi.

Perilaku anak muda yang cenderung tak acuh pada lingkungan membuat aksi-aksi peduli lingkungan hanya sebagai ajang eksistensi sosial media bahkan pencitraan politik semata. Kita harus mulai merubah perilaku-perilaku tak baik kita agar generasi masa depan juga masih bisa merasakan apa yang kita nikmati saat ini. [ ]