Pelatihan Kewirausahaan Sebagai Bentuk Pemberdayaan Para Napiter di Lapas Gunung Sindur, Jawa Barat

Pelatihan Kewirausahaan Sebagai Bentuk Pemberdayaan Para Napiter di Lapas Gunung Sindur, Jawa Barat

 

Pelatihan Kewirausahaan Sebagai Bentuk Pemberdayaan Para Napiter di Lapas Gunung Sindur

Nur Ihsanti Amalia, Ruang Damai

Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCrPFNAa8YBjvs1fkvd57Y3g

Program pemberdayaan, baik dari segi sosial maupun ekonomi memang sudah banyak dilakukan oleh berbagai pihak mulai dari pemerintah, sektor perusahaan, maupun sektor sosial yang meliputi Non-Government Organization. Program-program yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat pun sudah sejak lama menjadi salah satu program unggulan dalam pembangunan. Terlebih, salah satu tujuan pembangunan ialah menciptakan masyarakat yang berdaya atau memiliki daya, kekuatan, atau kemampuan baik dari segi individu, sosial, maupun ekonomi (Widjajanti, 2011). Lebih lanjut lagi, Widjajanti (2011) juga menjelaskan bahwa berdaya memiliki arti kemandirian dimana individu diharapkan dapat memiliki kemandirian berpikir, bertindak dan melakukan apa yang mereka lakukan.

Hal ini pula yang dilakukan oleh Ruang Damai dalam upayanya berkontribusi dalam program pemberdayaan narapidana terorisme agar kelak mereka dapat kembali melaksanakan peran sosialnya di masyarakat dan memiliki kemandirian dalam menghadapi kehidupan. Salah satunya melalui pelatihan kewirausahaan yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada para narapidana terorisme di Lapas Gunung Sindur mengenai konsep kewirausahaan yang dapat mereka terapkan selepas bebas dari masa tahanannya. Program ini dianggap tepat diberikan guna mempersiapkan mereka menyusun berbagai rencana untuk masa depannya nanti selepas bebas. Program ini juga sesuai dengan konsep pemberdayaan dimana sasaran utamanya adalah masyarakat yang lemah dan tidak memiliki kekuatan atau kemampuan untuk mengakses berbagai sumber daya yang ada (Widjajanti, 2011). Hal tersebut sesuai dengan sasaran program yaitu narapidana terorisme yang saat ini membutuhkan berbagai fasilitas belajar dan mempersiapkan dirinya dengan berbagai skill atau keahlian sebagai bekal kembali ke masyarakat.

Pelatihan ini diikuti oleh narapidana terorisme dengan narasumber yang juga merupakan narapidana terorisme yang memang sebelum ditangkap memiliki business online yang sudah cukup maju dan memiliki omset cukup besar.Pelatihan dengan tema ”Manajemen Bisnis Online”, bertujuan memberikan pengetahuan kepada mereka mengenai proses yang terjadi pada bisnis online beserta tips dan trick yang bisa diterapkan jika kelak ingin memulai business online. Pelatihan ini juga membahas berbagai hal mulai dari pengenalan bisnis online, aplikasi yang dapat digunakan untuk bisnis online, hingga cara-cara promosi yang bisa dilakukan. Pelatihan pun berjalan lancar dan para narapidana terorisme mengaku senang ada kegiatan seperti ini sehingga pemikiran mereka menjadi lebh terbuka dengan adanya berbagai kesempatan usaha yang bisa mereka lakukan selepas bebas nanti.

 

Gambar : Narapidana Teroris sedang mengikuti pelatihan kewirausahaan

 

Sebut saja Andi, salah satu narapidana terorisme yang mengikuti pelatihan kewirausahaan di Lapas Gunung Sindur, begitu antusias memerhatikan materi yang diberikan, bahkan sesekali ia pun bertanya untuk menambah pengetahuan yang dimiliki. Menurutnya, kegiatan ini sangat dibutuhkan oleh para narapidana terorisme karena mereka membutuhkan aktivitas yang dapat membantu mereka menyusun rencana selepas bebas nanti. Sudah sepatutnya, program pemberdayaan seperti ini terus dilakukan untuk mengoptimalkan kembali para narapidana terorisme agar bisa produktif, berdaya dan memiliki peran di masyarakat. Hal ini dilakukan agar kedepannya mereka tidak lagi bergabung dengan jaringannya dan dapat berperilaku sebagaimana mestinya. Akan tetapi, masih diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak untuk membuat program-program sejenis ini mampu berjalan dan membawa dampak positif bagi banyak pihak. Tak cukup sampai disini, pendampingan atau mentoring pun juga dibutuhkan untuk memastikan para penerima manfaat ini dapat menerapkan ilmu yang sudah dimiliki hingga akhirnya dapat membantu mereka terus bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Referensi:
Widjajanti, K. (2011). Model Pemberdayaan Masyarakat. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 12(1), 15-27.

#AksiBaik untuk Bangsa dalam rangka merayakan Hari Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan.

#AksiBaik untuk Bangsa dalam rangka merayakan Hari Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan.

Jakarta, 10 November 2020

Tulisan oleh: Rial Hayat, Relawan RuangDamai.id, Pegiat Lingkungan.

RuangDamai.id mengadakan kegiatan webinar yang bertajuk #AksiBaik untuk Bangsa dalam rangka merayakan Hari Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan. Seminar yang dibuat secara daring itu mengangkat isu mengenai perubahan perilaku anak muda terhadap perubahan iklim. Pembicara yang diajak juga dari kalangan pegiat isu lingkungan, Taufik D.S (Founder Komunitas Ciliwung Depok), Nathasi Fadhlin (Founder Semesta Mangi Lestari), dan Andi Pananrang (Community Officer #SayaPilihBumi dari National Geographic Indonesia).

Pembicara diajak bercerita tentang aktivitas dari komunitas mereka dan dampak apa yang berpengaruh terhadap perilaku anak muda saat ini. Diskusi dipandu oleh Rial Hayat, relawan RuangDamai.id dan seorang pegiat lingkungan juga. Taufik D.S, bercerita bahwa sungai Ciliwung merupakan tempat bermainnya saat kecil bersama teman-temannya, “banyak nostalgia masa kecil kalau kita bicara mengenai Ciliwung, dahulu kami (Taufik, dkk) sering bermain di Ciliwung dan mandi disana, namun kini sedih melihat Ciliwung yang semakin kotor”, tambahnya.

sumber Youtube : https://www.youtube.com/watch?v=8JR1vlv5ryE&feature=youtu.be

Sungai Ciliwung merupakan sungai yang membentang dari Selatan hingga Utara Jakarta itu kondisinya memang sangat memprihatinkan, dimana banyak sampah rumah tangga (sisa makanan, plastik, dll.) yang dibuang ke Ciliwung mengakibatkan Ciliwung semakin kotor. Perilaku manusia khususnya anak muda yang menjadikan Ciliwung sebagai tempat sampah belakang rumah membuat kondisi semakin parah ketika musim penghujan tiba.

Andi Pananrang menjelaskan bahwa setiap hari tak kurang 7-8 ton sampah per hari (sumber: KLHK) diangkut dari Ciliwung. Hal ini yang menurutnya harus kita ubah. Perilaku kita yang menjadikan Ciliwung sebagai halaman belakang harus kita ubah, kita harus jadikan Ciliwung halaman depan rumah kita sehingga kita menjaga dan melestarikan Ciliwung bagi genarasi yang akan datang. Andi juga menyebutkan bahwa kota-kota besar dunia itu menjadikan sungai sebagai masuknya peradaban dan jalur perdagangan, namun di kita belum sampai kesana, masih sedikit sungai-sungai kita yang manfaat dengan baik. “Kita harus mencontoh kota-kota modern dunia yang menjadikan sungai sebagai jalur masuk peradaban dan perdagangan” imbuhnya.

Gambar : Pencemaran Lingkungan

Disisi lain, Nathasi Fadhlin bercerita bahwa sampah juga menjadi kendala ketika mangrove yang mereka tanam mati karena banyaknya sampah yang melilit dan menutupi mangrove untuk bertumbuh dan berkembang.
Nathasi dan rekan-rekannya memang sering menanam mangrove di pesisir teluk Jakarta.
“Kami tanam mangrove, karena ekosistem mangrove besar manfaatnya selain menahan laju abrasi dan berkembang biaknya ikan, juga menyerap karbon lebih besar daripada pohon biasa di daratan”, cerita Nathasi.

Perilaku anak muda yang cenderung tak acuh pada lingkungan membuat aksi-aksi peduli lingkungan hanya sebagai ajang eksistensi sosial media bahkan pencitraan politik semata. Kita harus mulai merubah perilaku-perilaku tak baik kita agar generasi masa depan juga masih bisa merasakan apa yang kita nikmati saat ini. [ ]

Saatnya Memajukan Pendidikan di Papua

Saatnya Memajukan Pendidikan di Papua

YOHANES   SURYA
(Penasehat Ahli Menko Maritim dan Investasi, Pendidik)

Sekitar 18 tahun yang lalu, saya dan tim dari Surya Institute berkunjung ke Papua. Kami tertantang untuk mengorbitkan anak-anak Indonesia Timur ini.Waktu itu orang beranggapan bahwa anak Papua sangat tertinggal. Kami mengunjungi beberapa SMA di Jayapura dan mengadakan seleksi, memilih beberapa siswa untuk dilatih. Apa yang saya temukan? Ternyata anak Papua cerdas dan memiliki logika berpikir yang bagus, tidak seperti anggapan banyak orang.Para siswa di Papua tidak hanya memiliki kemampuan kognitif yang baik namun semangat dan tekun belajar dari pagi hingga larut malam.

Septinus George

Setelah 1-3 tahun dilatih, beberapa dari mereka mampu bersaing ditingkat nasional maupun internasional. Tahun 2004, Septinus George Saat meraih medali emas dalam lomba The First Step to Nobel Prize in Physics. Tahun 2005,Anike Boawire dari Serui  mengikuti jejak George Saa juga meraih medali emas dalam lomba tersebut. Tahun yang sama, Papua berhasil meraih peringkat 8 dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) yang diadakan di Jakarta dengan merebut 2 medali emas.Satu medali emas diraih oleh Andrey Awoitauw dalam bidang Matematika SMP yang selama ini menjadi momok di Papua.Beberapa dari anak yang dilatih ini sekarang sudah berhasil meraih gelar doktor, salah satunya Yane Ansanay. Yane mendapat gelar Ph.D dalam bidang Fisika dari North Carolina State University pada tahun 2015.Yane adalah doktor Fisika wanita pertama dari Papua.Dan yang hebatnya kuliah Yane dibiayai oleh dirinya sebagai research assistant.

Kisah di Tolikara dan Wamena

Program pembinaan di Papua sempat terhenti 3 tahun lamanya, hingga pada tahun 2008 Jhon Tabo (Bupati Tolikara) mengundang kami untuk meninjau pendidikan di Tolikara.Saat itu kondisi pendidikan di Tolikara sangat tertinggal, terutama dalam kemampuan numerik. Siswa menggunakan batang lidi untuk menyelesaikan penjumlahan sederhana satu digit seperti 5 tambah 2. Dalam kunjungan itu, kami menyeleksi 5 siswa dan melatihnya di Tangerang.

Setelah 6 bulan pelatihan, kami uji anak-anak itu dengan soal ujian nasional Matematika SD. Hasilnya cukup bagus, mereka mendapat nilai sekitar 70. Kemudian, setelah satu tahun dilatih, anak-anak ini diikutkan ujian nasional di Jakarta. Hasilnya menggembirakan. Nilai Matematika mereka rata-rata diatas 90, bahkan ada yang dapat 100. Nilai mata pelajaran lainnya juga sangat baik dengan rata – rata nilai diatas 90 untuk IPA dan diatas 70 untuk Bahasa Indonesia.Setelah perjalanan itu, kami juga diminta untuk melatih 5 siswa dari Wamena.Salah satu siswa tersebut berasal dari Desa Kurulu yang seluruh penduduknya masih mengenakan koteka.Hasilnya sama. Prestasi yang diraih kelima siswa tersebuthampir mirip dengan hasil yang diperoleh siswa Tolikara.Darisini saya simpulkan bahwa tidak ada anak yang “bodoh”,mereka hanya belum dapat kesempatan belajar dari guru yang baik dan metode yang benar.

Beberapa kabupaten lain di Papua juga meminta agar siswa-siswanya juga dilatih. Kami menyambut baik usulan itu. Kami meminta agar siswa yang dikirim merupakan yang paling tidak unggul dalam akademis atau dianggap paling “bodoh”. Ini tantangan bagi kami, sekaligus ingin membuktikan hipotesa saya sebelumnya. Dari Mimika, PT Freeport Indonesia mengirim 10 siswa yang salah satunya berusia hampir 12 tahun namun masih duduk di kelas 2 SD (4 tahun tidak naik kelas).Dan terbukti. Anak-anak yang dianggap “bodoh” ini ternyata adalah anak yang berbakat.Mereka tidak bodoh namun belum mendapat kesempatan belajar dari guru yang baik.Begitu ketemu guru yang hebat, mereka menjadi luar biasa. Pelajar yang empat tahun tinggal kelas tersebut meraih juara ketiga lomba robotik nasional setelah dibina selama 2 tahun. Diantara pelajar–pelajar itu juga banyak yang menjadi juara dalam berbagai kompetisi. Berdasarkan pengalaman mengajar dan membina pelajar yang berasal dari Papua, saya melihat Papua membutuhkan guru yang baik dengan metode pengajaran yang tepat.

Source : Youtube/Dongeng Kita – APUSE | Lagu Daerah Papua | Budaya Indonesia

GASING

Papua perlu guru-guru yang berkualitas dan berdedikasi. Meskipun dapat berasal dari luar dan dalam Papua, namun opsi yang terbaik adalah guru lokal yang berasal dari Papua. Atas kebutuhan tersebut, kita perlu mendorong pelajardi wilayah Papua untuk menjadi guru. Guna mempercepat peningkatan kemampuan berhitung di seluruh Papua,guru perlu dibekali dengan cara mengajar yang GASING (Gampang, Asyik dan Menyenangkan) yang memungkinkan setiap siswa belajar secara mudah sehingga tidak ada alasan mereka tidak mampu atau tidak mengerti. Bila materi pelajaran disampaikan dengan mudah, maka siswa akan asyik dalam belajar.Siswa akan dengan senang hati  mengerjakan ratusan soal atau tugas-tugas yang diberikan ketika belajar menjadi sangat menyenangkan bila metode ini diterapkan disekolah-sekolah,maka pembelajaran 8 jam per hari bukanlah merupakan suatu masalah.

Belum lama ini kami bekerjasama dengan Yayasan Pendidikan Astra untuk melatih 18 guru dari 6 kabupaten (Kupang, Bogor, Lampung Selatan, Pacitan, Gunung Kidul, Bantul). Tiap guru masing-masing membawa 1 murid (kelas 4-5) yang dianggapnya “bodoh” di daerahnya. Guru-guru dilatih bagaimana mengajar secara GASING dengan fokus pada berhitung atau aritmatika (penjumlahan, pengurangan, perkalian,pembagian). Targetnya adalah, setiap anak mampu berhitung secara cepat (mencongak).  Setiap pagi selesai dilatih, guru mempraktekan apa yang dipelajarinya kepada anak didiknya. Awalnya orang pesimis, apa mungkin anak yang dikatakan ‘bodoh” ini bisa jadi pintar?  Namun selama 2 bulan, pengamat dari Yayasan Pendidikan Astra melaporkan bahwa anak-anak yang semula takut Matematika, kini sudah mahir berhitung dan sangat menyukai Matematika, bahkan beberapa dari mereka bercita-cita ingin jadi profesor di bidang Matematika. Anak-anak yang mewakili Kabupaten Kupang dalam Olimpiade Sains Nasional Tingkat Provinsi adalah anak-anak yang dilatih dengan metode GASING.

Poto : Anak-anak Papua

Berhitung

Berhitung adalah modal dasar untuk menguasai matematika dan pelajaran eksak lainnya seperti Fisika dan Kimia. Keberhasilan kami melatih anak-anak Papua sehingga menjadi juara berbagai lomba sains dan matematika, dimulai dengan keberhasilan melatih mereka menguasai berhitung. Mereka mencintai pelajaran sejak mengenal metode GASING.

Nah kembali sekarang, apakah kita mau membangun pendidikan di Papua? Saya pikir jalan yang paling mudah adalah mulai dengan Papua Pandai Berhitung. Setiap anak di Papua harus mampu berhitung penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian secara cepat. Kita buat seluruh anak Papua melek berhitung. Tidak butuh waktu lama untuk menguasai berhitung. Dibutuhkan waktu 2-3 bulan untuk setiap anak mampu berhitung dengan cepat.
Kita bisa mulai dalam situasi pandemi Covid–19 ini untuk meningkatkan kualitas guru di Papua melalui program Papua Pandai Berhitung dengan melatih beberapa guru dari setiap kabupaten di Papua melalui platform sosial media atau komunikasi digital seperti WA Group selama 2-3 bulan. Ini baru permulaan. Guru yang sudah dilatih kemudian dapat mengimbaskannya kepada guru-guru lain di daerahnya masing-masing. Disamping Papua Pandai Berhitung, Pemerintah di Papua perlu menyiapkan anak-anak asli Papua untuk menjadi guru-guru yang berkualitas. Guru-guru ini harus yang punya hati untuk kembali ke Papua dan membangun pendidikan di Papua. Untuk siswa dengan motivasi tinggi seperti Yane Ansanay (katakan 2 anak per kabupaten), Pemerintah perlu punya program khusus. Mereka bisa disiapkan selama 2-3 tahun sebelum dikirim ke universitas terbaik di dalam ataupun di luar negeri. Mereka inilah nanti yang akan membantu Pemerintah untuk membangun wilayah Papua.

Bila pemerintah pusat dan daerah berkomitmen menangani pendidikan di Papua, maka tidak ada yang tidak mungkin. Suatu saat pendidikan di Papua tidak kalah dengan pendidikan di provinsi lain di Indonesia. Kini sudah saatnya kita memajukan pendidikan di Papua seiring gebrakan pembangunan  untuk membuka  daerah terisolir yang diusung oleh Presiden Joko Widodo.

Belantara Bernama Jakarta

Belantara Bernama Jakarta

ARMAN DHANI

Dijalanan ibu kota, pejalan kaki dianggap golongan manusia kasta terendah. Berjalan kaki dari kantor untuk pulang ke rumah bisa disebut perkara bertahan hidup. Trotoar tidak akan melindungi kita dari klaskson motor, sopir mabuk, dan warung yang bertengger di bahu jalan. Pilihannya sederhana, lihai bertahan hidup dengan awas pada lingkungan atau merengang nyawa ditabrak.

Pejalan kaki adalah paria. Mereka sering disisihkan, ditindas, diasingkan, dan dipinggirkan keberadaannya. Jalanan di Jakarta tidak memberi ruang gerak bagi mereka. Trotoar adalah ekosistem semu tempat pejalan kaki yang kini mesti berhati-hati. Di atasnya, deretan warung kaki lima, dan parkir dadakan. Tak ada kemuliaan yang bisa didapat dari berjalan kaki di Jakarta selain terik panas, debu, dan sesekali cipratan air dari genangan jalan.

Padahal pejalan kaki adalah pembaharu, pionir yang membentuk sejarah dunia. Dalam buku memukau berjudul “Wanderlust: A History of Walking” susunan Rebeca Solnit, terungkap bahwa peradaban manusia terbentuk dari pejalan kaki. Ia bercerita tentang bagaimana hal pertama yang dilakukan prajurit Romawi sesudah penaklukan adalah membanggun Pavement, sebuah jalan dengan kebanggaan yang melintang dari jantung kekaisaran Romawi hingga ke daerah jajahan.

Solnit bercerita dengan kekayaan referensi yang mengagumkan akan bagaimana para pejalan kaki mewariskan kemajuan. Para pejalan kaki sejatinya telah melahirkan bangsa-bangsa bari dengan keunikan kebudayaan masing-masing. Sebelum pencipta roda, manusia hanya mengenal jalan kaki dan angkutan hewan untuk melakukan perpindahan ruang. Di sana, interaksi manusia melahirkan kabilah-kabilah dan persekutuan.

Hari ini semua berubah. Menakutkan melihat bagaimana bangsa ini begitu pemalas. Kita menggunakan mesin untuk bergerak dari satu titik ke titik yang lain. Polutan dipeluk dan diakrabi sedemikian rupa sebagai efek- apa boleh buat dari kemalasan yang terlalu. Barangkali kendaraan diciptakan untuk memberikan para manusianya kenikmatan sesaat. Jelajah ruang menjadi egois dan mementingakan diri sendiri di jalanan.

Menemukan kebaikan di jalan raya di Jakarta sama susahnya mencari kerja nyata. Para Neanderthal yang menggunakan motor bisa kita lihat melawan arus dalam jalan layang satu arah. Bergerombol dan terowongan jalan saat hujan, menerobos lampu pertunjuk lalu lintas, dan bergerak semaunya dalam jalan yang macet. Tapi kita tahu, kita perlu memaafkan mereka. Manusia dengan otak yang tidak berkembang ini hanya korban dari sebuah sistem yang keji.

Perkara menyeberang jalan di Jakarta bisa jadi adalah perkara bertaruh nyawa. Keengganan mengalah yang menjangkiti kaum dungu bermotor. Jalanan telah menjadi rimba siapa yang gesit ia yang didepan, siapa yang cepat ia akan berkuasa. Kedengilan semacam ini telah melahirkan pribadi-pribadi fasih, ogah mau tahu, egois, dan keras. Entah berapa orang korban dari sebuah sistem yang keji. Menerobos, meyerempet, dan menabrak kendaraan lain demi obsesi sampai cepat ke tujuan mereka.

Video Pejalan Kaki Bertaruuh nyawa dijalanan
Source : Youtube/ KLA Indonesia

Palang besi pembatas, peninggi trotoar, dan polisi tidur adalah bukti kegagalan peradaban. Karena kita tahu tanpa ha-hal itu tadi pengguna motor bisa lebih biadab dari sebuah rezim. Kebut-kebutan di dalam kompleks perumahan, menaiki jembatan penyebrangan, sampai dengan menguasai trotoar untuk memotong kemacetan. Mereka adalah orang yang tak mau ambil pusing dengan kepentingan orang lain dan dengan egois memuaskan kepentingan sendiri.

Apa yang menyababkan semua ini? Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Jakarta tidak pernah manusiawi. Pada awal 2012 saja, ada permohonan 1.557.418 surat kendaraan baru, baik mobil ataupun motor. Sementara jumlah kendaraan yang ada dijalanan pada tahun 2012 ada 14.618.313, dengan pertumbuhan kendaraan baru lebih dari 10% per tahun. Sementara jumlah jalan yang dilebarkan ataupun baru dibuat, jumlahnya hanya naik1,3%.

Menurut data Sub Dinas Bina Program Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta, panjang  jalan di Jakartaadalah 6.543 Kilometer(2010), 6.866 Kilometer (2011), dan 6.955 Kilometer (2012). Sementara pertumbuhan trotoar untuk pejalan kaki hampir tidak ada. Pejalan kaki tak pernah menjadi prioritas dalam pembangunan jalan. Tata ruang selalu berpihak pada roda-roda dari pada telapak kaki manusia.

Data-data itu hanya statistik, dan statistik tak pernah lebih baik dari pada khotbah agamawan. Mereka hanya menawarkan fakta, tapi tidak pernah memberi solusi. Setiap manusia yang menggunakan kendaraan tak pernah sadar bahwa mereka adalah bagian dari masalah. Melintas budak yang gagal memahami ruang dan fungsi kendaraan telah menjadikan kendaraan sebagai otoritas yang banal. Bahwa mereka menunggangi mesin lebih jemawa dan berkuasa dari yang berjalan kaki.

Lantas apa yang dimiliki oleh para pejalan kaki tiap kali kebijakan berpihak pada pengendara? Selain kesabaran dan kekebalan untuk tidak mau menyerah, para pejalan kaki tak memiliki apa-apa. Kita tentu ingat bagaimana perjuangan heroik seorang ibu berjilbab yang melawan para pengendara motor tahun 2009 lalu. Ibu ini harus berurusan dengan oknumyang tidak punya pikiran dengan kecerdasaan di bawah rata-rata. Memberikan argumen, pemahaman, dan kata-kata yang dibalas dengan klakson dan deru gas.

Kita tidak bisa menyalahkan makhluk serupa manusia yang  nekat mengendarai motor di jembatan penyebrangan. Mereka adalah subspecies dengan kapasitas otak yang tidak lebih baik dari manusia gua. Berdebat  dengan mereka hanya akan melahirkan baku pukul dan debat kusir. Satu-satunya carauntuk beradabkan pengguna jalan bebal tadi adalah dengan peluru pistol lebaran. Hehehehe. Tapi tentu itu akan membuang uang kita bukan? So, tegur dan memaafkan lebih bijak.Terima kasih untuk kalian para pembaca artikel ini.Sehat dan bahagia selalu.

Terkikisnya Kehidupan Yang Nyaman Akibat Intoleransi

Terkikisnya Kehidupan Yang Nyaman Akibat Intoleransi

Fany fachri Rhamadan

Hidup dengan tenang, nyaman, dan sejahtera serta bebas dari segala ancaman apapun, merupakan harapan setiap warga negara termasuk di Indonesia. Hal ini juga telah diatur dalam UUD 1945 mengenai HAM yang negara wajib menjamin kelangsungan hidup rakyatnya.

Negara memang akan menjamin warganya untuk dapat hidup dengan nyaman dan sejahtera. Namun, masyarakat tak bisa hanya sekedar menuntut tanpa melakukan kewajiban mereka dalam hidup bermasyarakat, seperti bersikap baik terhadap sesama dan tentunya hidup dengan azas saling tolong menolong.

Namun, beberapa tahun terakhir masyarakat Indonesia banyak disuguhkan berbagai macam aksi yang menimbulkan keresahan dan tentu hal ini menimbulkan ketidaknyaman. Salah satu diantaranya ialah sikap intoleran antar umat beragama dan aksi teror yang kian hari semakin menjamur di negeri ini.

Sebenarnya, baik sikap intoleran maupun aksi-aksi teror sama-sama memiliki dampak yang berbahaya untuk kelangsungan hidup di dalam masyarakat. Sebagai contoh, sikap intoleran kita terhadap pemeluk agama lain dapat menimbulkan perpecahan yang dapat meruntuhkan rasa persatuan antar sesama warga negara.

Aksi teror pun tak luput dari efek buruk yang ditimbulkan, seperti korban jiwa yang tak sedikit, memberikan citra buruk negara kita terhadap negara lain, dan tentunya menimbulkan ketidaknyamanan dan keresahan dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Jangan  Budayakan Sikap Intoleran 

Intoleransi merupakan sifat kebalikan dari toleransi. Sementara, kata Intoleransi  sendiri mengambil kata dasar toleran yang di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia merujuk kepada arti bersikap menenggang, menghargai pendirian, pandangan kepercayaan dan sebagainya yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian diri sendiri.

Tercatat sepanjang kurun waktu 2014, 2015, dan 2016 terjadi peningkatan kasus intoleransi di Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh KBB Komnas HAM Jayadi Damanik. Berikut ilustrasi data nya.

Dan jangan lupa, salah satu yang cukup viral selain kasus dugaan penistaan agama oleh pejabat publik, aksi intoleransi di Tolikara Papua tahun 2017, yakni masjid yang digunakan umat muslim untuk shalat ied dibakar oleh umat nasrani. Yang kemudian pada saat itu sempat membuat kegaduhan.

Tak hanya akan semakin mengikis  kehidupan yang nyaman dan tenteram, Salah satu dampak dari sikap intoleran ialah akan semakin pudarnya ciri khas masyarakat kita yakni, keramah tamahannya yang menjadi nilai plus bangsa kita dari negara lain.

Apabila hal ini terus berlanjut bukan tak mungkin sikap intoleran akan menjadi suatu budaya yang  tentunya tidak sesuai dengan nilai-nilai pancasila sebagai pandangan hidup masyarakat Indonesia.

Aksi Teror, Apa Bagusnya?

“DUAR!!!! DUAR!!!”…. Mungkin begitulah kiranya, suara ledakan bom yang semakin lama semakin sering terdengar di telinga masyarakat kita. Hal ini merujuk kepada data kepolisisan, pada kasus terorisme yang sebelumnya tahun 2016 berjumlah 163 tersangka, dan meningkat lagi di tahun 2017 menjadi 172 tersangka. Mari kita lihat beberapa data kasus aksi teror di tahun 2017 yang dikutip dari laman nasional.Tempo.co.

Dari data yang dipaparkan, bisa dilihat lebih dari separuh kasus tersebut terjadi di pulau jawa.

Mengapa di pulau jawa? Hal ini tentu beralasan. Kapolri Tito Karnavian pada orasi ilmiahnya di PTIK, menyatakan bahwa “ Pulau jawa yang dihuni oleh 140 juta penduduk, menjadi sasaran empuk para teroris untuk  melakukan program cuci otak oleh kelompoknya.” 

Hal ini berdasarkan sensus penduduk terakhir yakni tahun 2010 oleh Badan Pusat Statisitik yang menyebutkan bahwa pulau jawa dihuni sekitar 57,5% penduduk di Indonesia.

Apabila aksi ini kian sering terjadi, tentunya akan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat dan membuat hidup mereka menjadi merasa tidak nyaman serta terancam.

Dan tidak melulu bersenjatakan bom, para pelaku memiliki alternatif  lain dalam melaksanakan aksi teror tersebut seperti, penggunaan pistol dan senjata tajam untuk melancarkan aksinya.

Lalu, apa tujuan dari aksi teror tersebut? Merujuk kepada undang-undang  Nomor 15 tahun 2003, Terorisme merupakan tindakan menggunakan kekerasan untuk menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara luas yang menimbulkan korban yang bersifat massal. Hal ini dilakukan baik perorangan atau pun secara kelompok. 

Adapun kemiskinan, ketidakadilan, kesenjangan ekonomi dan politik merupakan faktor-faktor seseorang tergerak untuk melakukan aksi teror tersebut, menurut Khoirul Ghozali yang dulunya merupakan seorang terpidana kasus perampokan Bank CIMB Niaga.

Dampak yang timbul dari aksi-aksi tersebut apabila terus terulang, tentu tak hanya sekedar meresahkan masyarakat semata namun, ada dampak yang lebih dahsyat yang akan di terima yakni ;

  • Menimbulkan korban jiwa yang tak sedikit.
  • Menandakan kinerja pihak berwajib masih belum sigap dalam menghadapi aksi teror tersebut.
  • Menambah citra buruk Indonesia di mata dunia (Selain kasus korupsi yang tak kunjung usai).
  • Akan timbulya kelompok-kelompok “radikal” lainnya apabila hal ini semakin sering terulang.
  • Negara Indonesia dapat menjadi tempat bersarang nya kelompok-kelompok radikal.
  • Paham radikal akan semakin meluas.

Dari uraian diatas, penulis berkesimpulan bahwa aksi-aksi teror dalam bentuk apapun tak ada dampak baiknya bagi kelangsungan hidup bermasyarakat, karena jelas  melanggar HAM sehingga perlu perhatian lebih dari pemerintah baik mencegah dan  menuntas habis aksi-aksi tersebut.

Lalu, Bagaimana Ciptakan Lingkungan Hidup Yang Nyaman Tanpa Sikap Intoleran dan bebas dari Ancaman Apapun?

Kita semua tahu Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak sekali keberagaman baik bahasa, suku, dan agamanya. Tentu masyarakat harus menjaga keberagaman tersebut agar tidak hilang begitu saja.

Namun, hidup dengan dikelilingi banyak sekali keberagaman merupakan tantangan tersendiri karena harus membaur dengan berbagai macam kultur budaya yang ada.

Maka dari itu untuk dapat hidup dengan rukun, nyaman, dan sejahtera dalam keberagaman yang ada, sikap toleransi antar sesama dan tak menyebarkan ketakutan atau ancaman apapun sangat penting untuk di terapkan dalam hidup berbangsa dan bernegara. Berikut hal-hal yang bisa di lakukan untuk mewujudkannya :

Pertama, Mendekatkan lagi diri dengan sang pencipta. Hal ini akan membentuk emosional yang baik untuk diri kita.

Kedua, Sadari setiap tindakan baik perbuatan maupun perkataan, ada hukum yang mengatur kedua hal tersebut.

Ketiga, Hidup lah dengan azas gotong royong, jangan memetingkan ego masing-masing.

Keempat, Saling menghargai antar sesama warga negara.

Kelima, Hindari kelompok-kelompok yang terindikasi memiliki paham radikal (Pihak yang berwenang tentu memiliki data-datanya).

Keenam, Jangan ciptakan lagi ideologi baru, karena ideologi pancasila sudah sangat sesuai dengan karakter masyarakat bangsa Indonesia.

Dengan menerapkan beberapa hal tersebut, diharapkan kita sebagai warga negara yang baik mampu menciptakan ketentraman dan kenyamanan dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Jadilah warga negara yang tak hanya cerdas secara intelektual, namun juga secara emosional agar terciptanya kehidupan yang nyaman dan sejahtera di tengah-tengah keberagaman yang ada.

Ketahuilah, baik sikap intoleran kita terhadap individu atau kelompok lain maupun memberikan ancaman rasa takut kepada siapapun tak akan menguntungkan siapa-siapa.

Toleransi

Toleransi

Toleransi atau Toleran secara bahasa kata ini berasal dari bahasa latin “tolerare” yang berarti “sabar dan menahan diri”. Toleransi juga dapat berarti suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antarindividu (perseorang-an) baik itu dalam masyarakat ataupun dalam lingkup yang lain. Sikap toleransi dapat menghindari terjadinya diskriminasi, walaupun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat.

Contoh sikap toleransi secara umum antara lain: menghargai pendapat mengenai pemikiran orang lain yang berbeda dengan kita, serta saling tolong-menolong antar sesama manusia tanpa memandang sukurasagama, dan antar golongan.

Istilah toleransi mencakup banyak bidang. Salah satunya adalah toleransi beragama, yang merupakan sikap saling menghormati dan menghargai antar penganut agama lain, seperti:

  • Tidak memaksakan orang lain untuk menganut agama kita;
  • Tidak mencela/menghina agama lain dengan alasan apapun; serta
  • Tidak melarang ataupun mengganggu umat agama lain untuk beribadah sesuai agama/kepercayaan masing-masing.