Physical distancing (jaga jarak) dan Stay at home (di rumah saja) adalah solusi dalam menyikapi Covid-19. Ini adalah consensus (ijmak) para ahli kesehatan dan kebijakan yang diterapkan di beberapa negara, di antaranya Indonesia, USA, dan beberapa negara lain, yang tujuannya untuk menghentikan pergerakan dan memutus mata rantai penularan covid-19 sekaligus roda ekonomi terus bergerak, tidak lumpuh sama sekali.
Berbondong-bondong dunia kerja dan Pendidikan berubah wajah dari offline menjadi online. Revolusi work for home, kerja dari rumah, meningkatkan intensitas pertemuan dengan keluarga, kerja sembari berada di tengah-tengah anak-anak yang sedang bermain dan istri menyediakan kopi hangat, dan juga meningkatkan kebutuhan terhadap internet; Presiden rapat via online, Menteri dengan staf-stafnya rapat dan kordinasi via online, dosen mengajar mahasiswa/mahasiswa via online, owner dan direktur perusahaan rapat dan kordinasi dengan karyawan via online, pimpinan organisasi berkordinasi dan rapat dengan jajaran pengurus via online, dan seterusnya. Covid-19 semakin menyadarkan kita betapa pentingnya rumah dan keluarga.
Benteng Utama.

Ilustrasi : Aktivitas sehari-hari

Di hari-hari normal, bagi orangtua yang bekerja dan berkarir, rumah adalah tempat beristirahat dari lelahnya bekerja, tempat kembali dari bepergian, dan tempat tidur. Gambaran ini sebentuk rutinitas ritme kehidupan sehari-hari yang ritualistik bolak-balik rumah-kator, rumah-pabrik, rumah-tempat kerja. Covid-19 membolak-balik keadaan semua itu, tak ada lagi kisah anak yang jarang bertemu dengan orangtua atau istri jarang bersua dengan suami. Keakraban dan kehangatan keluarga tercipta sedemikian rupa. Semakin menyadari bahwa rumah dan keluarga adalah benteng utama di saat musibah dan wabah melanda.

Cukup viral statement yang mengatakan bahwa tim medis adalah benteng utama dalam melawan covid-19. Asumsi ini justru dibantah oleh salah seorang tim medis sendiri dengan mengatakan, bahwa benteng utama melawan covid-19 adalah warga masyarakat atau individu kita masing-masing, dan tim medis adalah benteng terakhir.
Jika mengacu pada pepatah, “lebih baik mencegah daripada mengobati” atau mengacu pada kaidah fikih “menolak kerusakan harus didahulukan daripada mengambil kemaslahatan”, maka pandangan salah satu tim kesehatan itu tepat. Kesehatan dan menjaga diri dari sakit adalah paling utama dan lebih utama dari mengobati. Menjaga diri agar tetap sehat, memiliki imunitas yang prima, dan terjaga dari sakit merupakan tugas setiap orang yang harus didahulukan. Mengobati sebagai tugas tim medis adalah solusi terakhir jika seseorang terpapar covid-19, bahkan ini bukanlah sesuatu yang diinginkan, dan sebisa mungkin tidak terjadi.

Ilustrasi : Seseorang yang tidak menjaga kesehatannya

Benteng utama selain diri sendiri, adalah keluarga. Kebijakan dan saran agar di rumah saja adalah bukti nyata betapa keluarga adalah benteng utama setiap individu. Jauh sebelum adanya negara dan organisasi yang mengatur manusia, keluarga adalah unit kecil yang secara natural sudah memiliki unsur mengatur, berbagi peran, membuat aturan yang disepakati bersama anggota keluarganya yang terdiri dari orangtua dan anak, lalu bertambah ada cucu, kakek/nenek, dan seterusnya. Keluarga merupakan organisasi paling kuno dan paling awal, paling senior dari organisasi manapun, karenanya lebih mapan dan teruji daya tahannya sebagai benteng.
Sejatinya, negara pun atau organisasi massa pun isinya terdiri dari keluarga demi keluarga yang masing-masing memiliki anggotanya sendiri. Jika negara ingin baik dan sehat, maka harus dimulai dari keluarga-keluarga yang baik dan sehat. Jika keluarga ingin baik dan sehat, maka harus dimulai dari individu-individu anggota keluarganya. Kebijakan di rumah saja semakin mempertegas eksistensi dan peran keluarga begitu besar.
Sebaliknya, negara akan rusak dan tidak sehat, karena disebabkan setiap keluarga tidak menciptakan hidup yang baik dan sehat. Keluarga yang rusak dan tidak sehat, disebabkan masing-masing anggotanya hidup tidak sehat.
Apabila bahu membahu, gotong royong, dan saling menjaga kesehatan serta saling mengingatkan cuci tangan, physical distancing ketika bertemu orang dan tidak keluar rumah kecuali untuk keperluan yang sangat penting antar anggota keluarga dan antar keluarga akan menciptakan kehidupan yang sehat yang berjejaring, berkelindan, dan menasional.
Persoalan keluarga dalam perepektif fikih Islam masuk ke dalam rumpun al-ahwal al-syakhsiyah (perdata), bukan termasuk jinayat (pidana). Sehingga, jika muncul permasalahan baik antara suami dan istri atau orangtua dan anaknya cara penyelesaiannya lebih diutamakan dengan cara-cara kekeluargaan dan musyawarah. Ini selaras dengan jati diri bangsa kita yang mengarusutamakan musyawarah mufakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Sehingga jika ada pertengkaran, konflik, perselisihan, pernikahan, perjodohan—baik pilihan sendiri atau pilihan orangtua— dan kesalahpahaman serta persoalan lain seperti warisan, meniscayakan adanya mediator pihak ketiga—bisa orang yang diikuti dan dipandang seperti ulama di jalur kultur atau pihak KUA/Peradilan Agama di jalur struktur formal negara—untuk mencoba menengahi dan mencari solusi terbaik bagi kedua belah pihak. Inilah wujud moderasi Islam dan jati diri bangsa bersinergi.
Adalah sikap yang ekstrim, berlebihan, dan jauh dari sikap moderat dan menyimpang dari jati diri bangsa jika semua persoalan keluarga dan rumah tangga secara serta merta diseret ke dalam kategori pidana dan penyelesaiannya secara kaku melalui hukum dan penjara.
Tak semua persoalan diselesaikan dengan hukum negara dan penjara. Yang dibutuhkan masyarakat adalah edukasi, pencerahan, dan menumbuhkan kesadaran secara terus menerus dalam proses transformasi menuju masyarakat yang lebih baik melalui jalur kultural.
Sebagaimana dalam menangani covid-19, bukan hanya diselesaikan melalui jalur legal formal pemerintah, akan tetapi juga masing-masing individu masyarakat melalu jalur kultural dengan memberi pencerahan dan kesadaran kepada anggota keluarganya. Taat dan mematuhi peraturan pemerintah pun bagian dari upaya masyarakat dalam menangani covid-19.

Soldaritas
Covid-19 mempersatukan rakyat Indonesia dan umat manusia sedunia. Sisa-sisa polaritas akibat politik pasca pemilu, harus segera diakhiri. Solidaritas dibangun dan dikokohkan. Persatuan adalah kunci dalam menghadapi covid-19.
Cukup membanggakan, sikap keagamaan para ulama dan hampir seluruh lembaga fatwa yang otoritatif umat Islam sedunia satu suara dan bulat dalam menyikapi covid-19. Inilah yang disebut ijmak (consensus) di mana seluruh ulama sedunia baik Mesir, Saudi Arabiah, Indonesia, dan negara mayorias muslim lainnya bersepakat bahwa untuk menghindari kerumunan yang berpotensi semakin menyebarnya covid-19, maka umat Islam tidak mengadakan shalat Jumatan dan shalat berjamaah di Masjid. Jumatan diganti dengan shalat dzuhur di rumah. Seluruh shalat lima waktu, sunnah, tarawih, dan witir di rumah. Pemerintah Saudi juga menutup ibadah umrah. Yang membanggakan lagi, solidaritas antar golongan di internal Islam di Indonesia, sebagai negara yang penduduk muslimnya terbesar sedunia, yakni MUI, NU, Muhammadiyah, dan ormas lain pun bersatu dan bersepakat dengan fatwa tersebut.
Saat ini situasinya sudah seperti sedang berperang melawan covid-19, sebagai common enemy (musuh bersama). Bahkan lebih sulit menghadapinya. Jika berperang melawan kolonialisme, rakyat Indonesia berhasil menghadapinya dan merdeka, sebab musuh yang dihadapi terlihat oleh mata dan bersifat fisik. Ini pun karena rakyat Indonesia bersatu. Sehingga persatuan Indonesia sebagai jati diri bangsa dimasukan dalam Pancasila.
Sedangkan covid-19 ini musuh yang tidak terlihat mata, gerakannya sangat cepat, bisa menerobos benteng pertahanan sekuat apapun, bisa menyusup ke mana pun, berpindah dengan lincah menularkannya dari satu orang ke orang yang lain, dan mengalahkan serta menjatuhkan siapapun. Covid-19 menyasar pada siapapun, tanpa pandang bulu, dan tanpa memandang keimanan serta segala identitas. Seluruh manusia beragama apapun, Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan yang lainnya, terpapar covid-19. Negara Barat maupun Timur terpapar covid-19.
Islam mengapresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh umat manusia yang sedang mendapatkan cobaan musibah berupa wabah dengan memberinya pahala kesyahidan. Seluruh manusia yang berperang melawan covid-19 dengan usaha yang sungguh-sungguh dan berbagai ragam cara akan mendapatkan pahala syahid; orang-orang yang di rumah saja, dengan niat agar tidak berkerumun yang nantinya akan tertular-menularkan covid-19 oleh dan kepada orang lain serta terputusnya mata rantai covid-19 adalah syahid; pekerja yang demi mencari nafkah sembari berikhtiar menghindari covid-19 dengan menggunakan masker dan tidak bersentuhan fisik adalah syahid; tim medis yang berjibaku dalam menangani dan merawat para pasien yang terkena covid-19 adalah syahid; relawan kemanusiaan yang bergotong royong bersama para dermawan adalah syahid.
Solidaritas yang besar dan menyeluruh—meminjam perspektif Ernest Renan—adalah wujud dari sebuah bangsa. Sebab itulah bukti dari jiwa dan kehendak untuk hidup bersama yang sebermula, menurut Otto Bauer, dari ‘persamaan nasib’.
Solidaritas diwujudkan melalui gotong royong semua anak bangsa. Esensi Pancasila, kata Bung Karno, adalah gotong royong. Sikap gotong royong di bumi nusantara sudah hidup dan dihidupkan oleh penduduknya selama ratusan bahkan ribuan tahun lamanya. Gotong royong adalah salah satu nilai (value) dan karakter dasar bangsa ini. Selaras dengan al-ta’awun (saling tolong menolong) dan al-takaful (solidaritas) dalam Islam.
Bukan hanya pihak pemerintah yang berkewajiban dalam menghadapi dan menyelesaikan covid-19, akan tetapi juga seluruh rakyat berkewajiban; bagi kalangan pengusaha yang memiliki kelebihan harta, harus membantu pemerintah dan rakyat pada umumnya dengan harta dan fasilitas; tenaga medis dengan keahliannya; relawan dengan tenaganya; ulama dengan fatwa, pencerahan, penyadaran, dan pendampingannya kepada umat; masing-masing individu dengan pro aktif dengan saling mengingatkan kepada anggota keluarganya.

Oleh. Said Aqil Siradj, Ketua Umum PBNU