Fany fachri Rhamadan

Hidup dengan tenang, nyaman, dan sejahtera serta bebas dari segala ancaman apapun, merupakan harapan setiap warga negara termasuk di Indonesia. Hal ini juga telah diatur dalam UUD 1945 mengenai HAM yang negara wajib menjamin kelangsungan hidup rakyatnya.

Negara memang akan menjamin warganya untuk dapat hidup dengan nyaman dan sejahtera. Namun, masyarakat tak bisa hanya sekedar menuntut tanpa melakukan kewajiban mereka dalam hidup bermasyarakat, seperti bersikap baik terhadap sesama dan tentunya hidup dengan azas saling tolong menolong.

Namun, beberapa tahun terakhir masyarakat Indonesia banyak disuguhkan berbagai macam aksi yang menimbulkan keresahan dan tentu hal ini menimbulkan ketidaknyaman. Salah satu diantaranya ialah sikap intoleran antar umat beragama dan aksi teror yang kian hari semakin menjamur di negeri ini.

Sebenarnya, baik sikap intoleran maupun aksi-aksi teror sama-sama memiliki dampak yang berbahaya untuk kelangsungan hidup di dalam masyarakat. Sebagai contoh, sikap intoleran kita terhadap pemeluk agama lain dapat menimbulkan perpecahan yang dapat meruntuhkan rasa persatuan antar sesama warga negara.

Aksi teror pun tak luput dari efek buruk yang ditimbulkan, seperti korban jiwa yang tak sedikit, memberikan citra buruk negara kita terhadap negara lain, dan tentunya menimbulkan ketidaknyamanan dan keresahan dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Jangan  Budayakan Sikap Intoleran 

Intoleransi merupakan sifat kebalikan dari toleransi. Sementara, kata Intoleransi  sendiri mengambil kata dasar toleran yang di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia merujuk kepada arti bersikap menenggang, menghargai pendirian, pandangan kepercayaan dan sebagainya yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian diri sendiri.

Tercatat sepanjang kurun waktu 2014, 2015, dan 2016 terjadi peningkatan kasus intoleransi di Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh KBB Komnas HAM Jayadi Damanik. Berikut ilustrasi data nya.

Dan jangan lupa, salah satu yang cukup viral selain kasus dugaan penistaan agama oleh pejabat publik, aksi intoleransi di Tolikara Papua tahun 2017, yakni masjid yang digunakan umat muslim untuk shalat ied dibakar oleh umat nasrani. Yang kemudian pada saat itu sempat membuat kegaduhan.

Tak hanya akan semakin mengikis  kehidupan yang nyaman dan tenteram, Salah satu dampak dari sikap intoleran ialah akan semakin pudarnya ciri khas masyarakat kita yakni, keramah tamahannya yang menjadi nilai plus bangsa kita dari negara lain.

Apabila hal ini terus berlanjut bukan tak mungkin sikap intoleran akan menjadi suatu budaya yang  tentunya tidak sesuai dengan nilai-nilai pancasila sebagai pandangan hidup masyarakat Indonesia.

Aksi Teror, Apa Bagusnya?

“DUAR!!!! DUAR!!!”…. Mungkin begitulah kiranya, suara ledakan bom yang semakin lama semakin sering terdengar di telinga masyarakat kita. Hal ini merujuk kepada data kepolisisan, pada kasus terorisme yang sebelumnya tahun 2016 berjumlah 163 tersangka, dan meningkat lagi di tahun 2017 menjadi 172 tersangka. Mari kita lihat beberapa data kasus aksi teror di tahun 2017 yang dikutip dari laman nasional.Tempo.co.

Dari data yang dipaparkan, bisa dilihat lebih dari separuh kasus tersebut terjadi di pulau jawa.

Mengapa di pulau jawa? Hal ini tentu beralasan. Kapolri Tito Karnavian pada orasi ilmiahnya di PTIK, menyatakan bahwa “ Pulau jawa yang dihuni oleh 140 juta penduduk, menjadi sasaran empuk para teroris untuk  melakukan program cuci otak oleh kelompoknya.” 

Hal ini berdasarkan sensus penduduk terakhir yakni tahun 2010 oleh Badan Pusat Statisitik yang menyebutkan bahwa pulau jawa dihuni sekitar 57,5% penduduk di Indonesia.

Apabila aksi ini kian sering terjadi, tentunya akan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat dan membuat hidup mereka menjadi merasa tidak nyaman serta terancam.

Dan tidak melulu bersenjatakan bom, para pelaku memiliki alternatif  lain dalam melaksanakan aksi teror tersebut seperti, penggunaan pistol dan senjata tajam untuk melancarkan aksinya.

Lalu, apa tujuan dari aksi teror tersebut? Merujuk kepada undang-undang  Nomor 15 tahun 2003, Terorisme merupakan tindakan menggunakan kekerasan untuk menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara luas yang menimbulkan korban yang bersifat massal. Hal ini dilakukan baik perorangan atau pun secara kelompok. 

Adapun kemiskinan, ketidakadilan, kesenjangan ekonomi dan politik merupakan faktor-faktor seseorang tergerak untuk melakukan aksi teror tersebut, menurut Khoirul Ghozali yang dulunya merupakan seorang terpidana kasus perampokan Bank CIMB Niaga.

Dampak yang timbul dari aksi-aksi tersebut apabila terus terulang, tentu tak hanya sekedar meresahkan masyarakat semata namun, ada dampak yang lebih dahsyat yang akan di terima yakni ;

  • Menimbulkan korban jiwa yang tak sedikit.
  • Menandakan kinerja pihak berwajib masih belum sigap dalam menghadapi aksi teror tersebut.
  • Menambah citra buruk Indonesia di mata dunia (Selain kasus korupsi yang tak kunjung usai).
  • Akan timbulya kelompok-kelompok “radikal” lainnya apabila hal ini semakin sering terulang.
  • Negara Indonesia dapat menjadi tempat bersarang nya kelompok-kelompok radikal.
  • Paham radikal akan semakin meluas.

Dari uraian diatas, penulis berkesimpulan bahwa aksi-aksi teror dalam bentuk apapun tak ada dampak baiknya bagi kelangsungan hidup bermasyarakat, karena jelas  melanggar HAM sehingga perlu perhatian lebih dari pemerintah baik mencegah dan  menuntas habis aksi-aksi tersebut.

Lalu, Bagaimana Ciptakan Lingkungan Hidup Yang Nyaman Tanpa Sikap Intoleran dan bebas dari Ancaman Apapun?

Kita semua tahu Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak sekali keberagaman baik bahasa, suku, dan agamanya. Tentu masyarakat harus menjaga keberagaman tersebut agar tidak hilang begitu saja.

Namun, hidup dengan dikelilingi banyak sekali keberagaman merupakan tantangan tersendiri karena harus membaur dengan berbagai macam kultur budaya yang ada.

Maka dari itu untuk dapat hidup dengan rukun, nyaman, dan sejahtera dalam keberagaman yang ada, sikap toleransi antar sesama dan tak menyebarkan ketakutan atau ancaman apapun sangat penting untuk di terapkan dalam hidup berbangsa dan bernegara. Berikut hal-hal yang bisa di lakukan untuk mewujudkannya :

Pertama, Mendekatkan lagi diri dengan sang pencipta. Hal ini akan membentuk emosional yang baik untuk diri kita.

Kedua, Sadari setiap tindakan baik perbuatan maupun perkataan, ada hukum yang mengatur kedua hal tersebut.

Ketiga, Hidup lah dengan azas gotong royong, jangan memetingkan ego masing-masing.

Keempat, Saling menghargai antar sesama warga negara.

Kelima, Hindari kelompok-kelompok yang terindikasi memiliki paham radikal (Pihak yang berwenang tentu memiliki data-datanya).

Keenam, Jangan ciptakan lagi ideologi baru, karena ideologi pancasila sudah sangat sesuai dengan karakter masyarakat bangsa Indonesia.

Dengan menerapkan beberapa hal tersebut, diharapkan kita sebagai warga negara yang baik mampu menciptakan ketentraman dan kenyamanan dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Jadilah warga negara yang tak hanya cerdas secara intelektual, namun juga secara emosional agar terciptanya kehidupan yang nyaman dan sejahtera di tengah-tengah keberagaman yang ada.

Ketahuilah, baik sikap intoleran kita terhadap individu atau kelompok lain maupun memberikan ancaman rasa takut kepada siapapun tak akan menguntungkan siapa-siapa.