ARMAN DHANI

Dijalanan ibu kota, pejalan kaki dianggap golongan manusia kasta terendah. Berjalan kaki dari kantor untuk pulang ke rumah bisa disebut perkara bertahan hidup. Trotoar tidak akan melindungi kita dari klaskson motor, sopir mabuk, dan warung yang bertengger di bahu jalan. Pilihannya sederhana, lihai bertahan hidup dengan awas pada lingkungan atau merengang nyawa ditabrak.

Pejalan kaki adalah paria. Mereka sering disisihkan, ditindas, diasingkan, dan dipinggirkan keberadaannya. Jalanan di Jakarta tidak memberi ruang gerak bagi mereka. Trotoar adalah ekosistem semu tempat pejalan kaki yang kini mesti berhati-hati. Di atasnya, deretan warung kaki lima, dan parkir dadakan. Tak ada kemuliaan yang bisa didapat dari berjalan kaki di Jakarta selain terik panas, debu, dan sesekali cipratan air dari genangan jalan.

Padahal pejalan kaki adalah pembaharu, pionir yang membentuk sejarah dunia. Dalam buku memukau berjudul “Wanderlust: A History of Walking” susunan Rebeca Solnit, terungkap bahwa peradaban manusia terbentuk dari pejalan kaki. Ia bercerita tentang bagaimana hal pertama yang dilakukan prajurit Romawi sesudah penaklukan adalah membanggun Pavement, sebuah jalan dengan kebanggaan yang melintang dari jantung kekaisaran Romawi hingga ke daerah jajahan.

Solnit bercerita dengan kekayaan referensi yang mengagumkan akan bagaimana para pejalan kaki mewariskan kemajuan. Para pejalan kaki sejatinya telah melahirkan bangsa-bangsa bari dengan keunikan kebudayaan masing-masing. Sebelum pencipta roda, manusia hanya mengenal jalan kaki dan angkutan hewan untuk melakukan perpindahan ruang. Di sana, interaksi manusia melahirkan kabilah-kabilah dan persekutuan.

Hari ini semua berubah. Menakutkan melihat bagaimana bangsa ini begitu pemalas. Kita menggunakan mesin untuk bergerak dari satu titik ke titik yang lain. Polutan dipeluk dan diakrabi sedemikian rupa sebagai efek- apa boleh buat dari kemalasan yang terlalu. Barangkali kendaraan diciptakan untuk memberikan para manusianya kenikmatan sesaat. Jelajah ruang menjadi egois dan mementingakan diri sendiri di jalanan.

Menemukan kebaikan di jalan raya di Jakarta sama susahnya mencari kerja nyata. Para Neanderthal yang menggunakan motor bisa kita lihat melawan arus dalam jalan layang satu arah. Bergerombol dan terowongan jalan saat hujan, menerobos lampu pertunjuk lalu lintas, dan bergerak semaunya dalam jalan yang macet. Tapi kita tahu, kita perlu memaafkan mereka. Manusia dengan otak yang tidak berkembang ini hanya korban dari sebuah sistem yang keji.

Perkara menyeberang jalan di Jakarta bisa jadi adalah perkara bertaruh nyawa. Keengganan mengalah yang menjangkiti kaum dungu bermotor. Jalanan telah menjadi rimba siapa yang gesit ia yang didepan, siapa yang cepat ia akan berkuasa. Kedengilan semacam ini telah melahirkan pribadi-pribadi fasih, ogah mau tahu, egois, dan keras. Entah berapa orang korban dari sebuah sistem yang keji. Menerobos, meyerempet, dan menabrak kendaraan lain demi obsesi sampai cepat ke tujuan mereka.

Video Pejalan Kaki Bertaruuh nyawa dijalanan
Source : Youtube/ KLA Indonesia

Palang besi pembatas, peninggi trotoar, dan polisi tidur adalah bukti kegagalan peradaban. Karena kita tahu tanpa ha-hal itu tadi pengguna motor bisa lebih biadab dari sebuah rezim. Kebut-kebutan di dalam kompleks perumahan, menaiki jembatan penyebrangan, sampai dengan menguasai trotoar untuk memotong kemacetan. Mereka adalah orang yang tak mau ambil pusing dengan kepentingan orang lain dan dengan egois memuaskan kepentingan sendiri.

Apa yang menyababkan semua ini? Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Jakarta tidak pernah manusiawi. Pada awal 2012 saja, ada permohonan 1.557.418 surat kendaraan baru, baik mobil ataupun motor. Sementara jumlah kendaraan yang ada dijalanan pada tahun 2012 ada 14.618.313, dengan pertumbuhan kendaraan baru lebih dari 10% per tahun. Sementara jumlah jalan yang dilebarkan ataupun baru dibuat, jumlahnya hanya naik1,3%.

Menurut data Sub Dinas Bina Program Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta, panjang  jalan di Jakartaadalah 6.543 Kilometer(2010), 6.866 Kilometer (2011), dan 6.955 Kilometer (2012). Sementara pertumbuhan trotoar untuk pejalan kaki hampir tidak ada. Pejalan kaki tak pernah menjadi prioritas dalam pembangunan jalan. Tata ruang selalu berpihak pada roda-roda dari pada telapak kaki manusia.

Data-data itu hanya statistik, dan statistik tak pernah lebih baik dari pada khotbah agamawan. Mereka hanya menawarkan fakta, tapi tidak pernah memberi solusi. Setiap manusia yang menggunakan kendaraan tak pernah sadar bahwa mereka adalah bagian dari masalah. Melintas budak yang gagal memahami ruang dan fungsi kendaraan telah menjadikan kendaraan sebagai otoritas yang banal. Bahwa mereka menunggangi mesin lebih jemawa dan berkuasa dari yang berjalan kaki.

Lantas apa yang dimiliki oleh para pejalan kaki tiap kali kebijakan berpihak pada pengendara? Selain kesabaran dan kekebalan untuk tidak mau menyerah, para pejalan kaki tak memiliki apa-apa. Kita tentu ingat bagaimana perjuangan heroik seorang ibu berjilbab yang melawan para pengendara motor tahun 2009 lalu. Ibu ini harus berurusan dengan oknumyang tidak punya pikiran dengan kecerdasaan di bawah rata-rata. Memberikan argumen, pemahaman, dan kata-kata yang dibalas dengan klakson dan deru gas.

Kita tidak bisa menyalahkan makhluk serupa manusia yang  nekat mengendarai motor di jembatan penyebrangan. Mereka adalah subspecies dengan kapasitas otak yang tidak lebih baik dari manusia gua. Berdebat  dengan mereka hanya akan melahirkan baku pukul dan debat kusir. Satu-satunya carauntuk beradabkan pengguna jalan bebal tadi adalah dengan peluru pistol lebaran. Hehehehe. Tapi tentu itu akan membuang uang kita bukan? So, tegur dan memaafkan lebih bijak.Terima kasih untuk kalian para pembaca artikel ini.Sehat dan bahagia selalu.