Mulut Togar tak berhenti mengunyah, enak sekali. Siang itu, Togar menyantap sebagian makanan yang dibawa oleh Mbak Anissa dari rumahnya.

“Ikan teri sambal buatan ibu mu enak sekali, kenapa gak buka warung?” tanya Mbak Anissa yang juga mencicipi masakan Ibu Togar.

“Nggak mbak, Ibu hanya memasak untuk keluarga saja” jawab Togar sekaligus melempar senyum, sepertinya kelaparan membuat dia lupa segalanya. Anissa dan Togar saling menyantap bekal mereka masing-masing, siang itu.

(Hampir) setiap orang pasti akan menjawab kalau masakan ibunya, adalah masakan terbaik di dunia. Togar akan bilang kalau masakan ibunya adalah yang terbaik, begitu juga Anissa. Togar dan Anissa akan sama-sama mempertahankan pendapat kalau masakan ibunya adalah yang terbaik. Lantas, apakah Togar akan menyerang Anissa? Tidak.

Walau terasa subyektif, setiap orang akan selalu bilang kalau masakan ibunya adalah yang terbaik. Iya, karena dalam waktu yang cukup lama, kita memakan masakan ibu, lidah kita menyesuaikan dengan masakan ibu. Pengalaman dan pengetahuan membentuk perspektif kita, tentang masakan Ibu.

Begitu juga radikalisme. Pengalaman dan pengetahuan akan membentuk pola pikir bahwa kelompok atau golonganmu adalah yang paling benar. Sejauh ini, tidak masalah. Tetapi akan menjadi bom waktu kalau pola pikirmu sudah kelewat batas. Menganggap kalau kelompok atau golonganmu adalah yang paling benar, dan lain salah. Karena kau anggap salah, seenaknya kau hina. Kau pikir mereka harus lenyap dari sekitarmu, karena mengganggu. Pada tahap ini, ada yang tidak beres di kepalamu. .

Togar tidak pernah memaksa Mbak Anissa tentang masakan Ibu siapa yang paling lezat. Sebaliknya, Togar dan Anissa saling berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang masakan Ibu mereka. Karena se-lezat apapun makanan di hotel bintang lima, ingatanmu akan berkata bahwa masakan ibu tetap yang terbaik. Lidah tak pernah berdusta.

Jadi, kapan kamu ke rumah? Ibu ku sudah memasak untukmu.