Pelatihan Kewirausahaan Sebagai Bentuk Pemberdayaan Para Napiter di Lapas Gunung Sindur

Nur Ihsanti Amalia, Ruang Damai

Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCrPFNAa8YBjvs1fkvd57Y3g

Program pemberdayaan, baik dari segi sosial maupun ekonomi memang sudah banyak dilakukan oleh berbagai pihak mulai dari pemerintah, sektor perusahaan, maupun sektor sosial yang meliputi Non-Government Organization. Program-program yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat pun sudah sejak lama menjadi salah satu program unggulan dalam pembangunan. Terlebih, salah satu tujuan pembangunan ialah menciptakan masyarakat yang berdaya atau memiliki daya, kekuatan, atau kemampuan baik dari segi individu, sosial, maupun ekonomi (Widjajanti, 2011). Lebih lanjut lagi, Widjajanti (2011) juga menjelaskan bahwa berdaya memiliki arti kemandirian dimana individu diharapkan dapat memiliki kemandirian berpikir, bertindak dan melakukan apa yang mereka lakukan.

Hal ini pula yang dilakukan oleh Ruang Damai dalam upayanya berkontribusi dalam program pemberdayaan narapidana terorisme agar kelak mereka dapat kembali melaksanakan peran sosialnya di masyarakat dan memiliki kemandirian dalam menghadapi kehidupan. Salah satunya melalui pelatihan kewirausahaan yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada para narapidana terorisme di Lapas Gunung Sindur mengenai konsep kewirausahaan yang dapat mereka terapkan selepas bebas dari masa tahanannya. Program ini dianggap tepat diberikan guna mempersiapkan mereka menyusun berbagai rencana untuk masa depannya nanti selepas bebas. Program ini juga sesuai dengan konsep pemberdayaan dimana sasaran utamanya adalah masyarakat yang lemah dan tidak memiliki kekuatan atau kemampuan untuk mengakses berbagai sumber daya yang ada (Widjajanti, 2011). Hal tersebut sesuai dengan sasaran program yaitu narapidana terorisme yang saat ini membutuhkan berbagai fasilitas belajar dan mempersiapkan dirinya dengan berbagai skill atau keahlian sebagai bekal kembali ke masyarakat.

Pelatihan ini diikuti oleh narapidana terorisme dengan narasumber yang juga merupakan narapidana terorisme yang memang sebelum ditangkap memiliki business online yang sudah cukup maju dan memiliki omset cukup besar.Pelatihan dengan tema ”Manajemen Bisnis Online”, bertujuan memberikan pengetahuan kepada mereka mengenai proses yang terjadi pada bisnis online beserta tips dan trick yang bisa diterapkan jika kelak ingin memulai business online. Pelatihan ini juga membahas berbagai hal mulai dari pengenalan bisnis online, aplikasi yang dapat digunakan untuk bisnis online, hingga cara-cara promosi yang bisa dilakukan. Pelatihan pun berjalan lancar dan para narapidana terorisme mengaku senang ada kegiatan seperti ini sehingga pemikiran mereka menjadi lebh terbuka dengan adanya berbagai kesempatan usaha yang bisa mereka lakukan selepas bebas nanti.

 

Gambar : Narapidana Teroris sedang mengikuti pelatihan kewirausahaan

 

Sebut saja Andi, salah satu narapidana terorisme yang mengikuti pelatihan kewirausahaan di Lapas Gunung Sindur, begitu antusias memerhatikan materi yang diberikan, bahkan sesekali ia pun bertanya untuk menambah pengetahuan yang dimiliki. Menurutnya, kegiatan ini sangat dibutuhkan oleh para narapidana terorisme karena mereka membutuhkan aktivitas yang dapat membantu mereka menyusun rencana selepas bebas nanti. Sudah sepatutnya, program pemberdayaan seperti ini terus dilakukan untuk mengoptimalkan kembali para narapidana terorisme agar bisa produktif, berdaya dan memiliki peran di masyarakat. Hal ini dilakukan agar kedepannya mereka tidak lagi bergabung dengan jaringannya dan dapat berperilaku sebagaimana mestinya. Akan tetapi, masih diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak untuk membuat program-program sejenis ini mampu berjalan dan membawa dampak positif bagi banyak pihak. Tak cukup sampai disini, pendampingan atau mentoring pun juga dibutuhkan untuk memastikan para penerima manfaat ini dapat menerapkan ilmu yang sudah dimiliki hingga akhirnya dapat membantu mereka terus bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Referensi:
Widjajanti, K. (2011). Model Pemberdayaan Masyarakat. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 12(1), 15-27.