Saatnya Memajukan Pendidikan di Papua

Saatnya Memajukan Pendidikan di Papua

YOHANES   SURYA
(Penasehat Ahli Menko Maritim dan Investasi, Pendidik)

Sekitar 18 tahun yang lalu, saya dan tim dari Surya Institute berkunjung ke Papua. Kami tertantang untuk mengorbitkan anak-anak Indonesia Timur ini.Waktu itu orang beranggapan bahwa anak Papua sangat tertinggal. Kami mengunjungi beberapa SMA di Jayapura dan mengadakan seleksi, memilih beberapa siswa untuk dilatih. Apa yang saya temukan? Ternyata anak Papua cerdas dan memiliki logika berpikir yang bagus, tidak seperti anggapan banyak orang.Para siswa di Papua tidak hanya memiliki kemampuan kognitif yang baik namun semangat dan tekun belajar dari pagi hingga larut malam.

Septinus George

Setelah 1-3 tahun dilatih, beberapa dari mereka mampu bersaing ditingkat nasional maupun internasional. Tahun 2004, Septinus George Saat meraih medali emas dalam lomba The First Step to Nobel Prize in Physics. Tahun 2005,Anike Boawire dari Serui  mengikuti jejak George Saa juga meraih medali emas dalam lomba tersebut. Tahun yang sama, Papua berhasil meraih peringkat 8 dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) yang diadakan di Jakarta dengan merebut 2 medali emas.Satu medali emas diraih oleh Andrey Awoitauw dalam bidang Matematika SMP yang selama ini menjadi momok di Papua.Beberapa dari anak yang dilatih ini sekarang sudah berhasil meraih gelar doktor, salah satunya Yane Ansanay. Yane mendapat gelar Ph.D dalam bidang Fisika dari North Carolina State University pada tahun 2015.Yane adalah doktor Fisika wanita pertama dari Papua.Dan yang hebatnya kuliah Yane dibiayai oleh dirinya sebagai research assistant.

Kisah di Tolikara dan Wamena

Program pembinaan di Papua sempat terhenti 3 tahun lamanya, hingga pada tahun 2008 Jhon Tabo (Bupati Tolikara) mengundang kami untuk meninjau pendidikan di Tolikara.Saat itu kondisi pendidikan di Tolikara sangat tertinggal, terutama dalam kemampuan numerik. Siswa menggunakan batang lidi untuk menyelesaikan penjumlahan sederhana satu digit seperti 5 tambah 2. Dalam kunjungan itu, kami menyeleksi 5 siswa dan melatihnya di Tangerang.

Setelah 6 bulan pelatihan, kami uji anak-anak itu dengan soal ujian nasional Matematika SD. Hasilnya cukup bagus, mereka mendapat nilai sekitar 70. Kemudian, setelah satu tahun dilatih, anak-anak ini diikutkan ujian nasional di Jakarta. Hasilnya menggembirakan. Nilai Matematika mereka rata-rata diatas 90, bahkan ada yang dapat 100. Nilai mata pelajaran lainnya juga sangat baik dengan rata – rata nilai diatas 90 untuk IPA dan diatas 70 untuk Bahasa Indonesia.Setelah perjalanan itu, kami juga diminta untuk melatih 5 siswa dari Wamena.Salah satu siswa tersebut berasal dari Desa Kurulu yang seluruh penduduknya masih mengenakan koteka.Hasilnya sama. Prestasi yang diraih kelima siswa tersebuthampir mirip dengan hasil yang diperoleh siswa Tolikara.Darisini saya simpulkan bahwa tidak ada anak yang “bodoh”,mereka hanya belum dapat kesempatan belajar dari guru yang baik dan metode yang benar.

Beberapa kabupaten lain di Papua juga meminta agar siswa-siswanya juga dilatih. Kami menyambut baik usulan itu. Kami meminta agar siswa yang dikirim merupakan yang paling tidak unggul dalam akademis atau dianggap paling “bodoh”. Ini tantangan bagi kami, sekaligus ingin membuktikan hipotesa saya sebelumnya. Dari Mimika, PT Freeport Indonesia mengirim 10 siswa yang salah satunya berusia hampir 12 tahun namun masih duduk di kelas 2 SD (4 tahun tidak naik kelas).Dan terbukti. Anak-anak yang dianggap “bodoh” ini ternyata adalah anak yang berbakat.Mereka tidak bodoh namun belum mendapat kesempatan belajar dari guru yang baik.Begitu ketemu guru yang hebat, mereka menjadi luar biasa. Pelajar yang empat tahun tinggal kelas tersebut meraih juara ketiga lomba robotik nasional setelah dibina selama 2 tahun. Diantara pelajar–pelajar itu juga banyak yang menjadi juara dalam berbagai kompetisi. Berdasarkan pengalaman mengajar dan membina pelajar yang berasal dari Papua, saya melihat Papua membutuhkan guru yang baik dengan metode pengajaran yang tepat.

Source : Youtube/Dongeng Kita – APUSE | Lagu Daerah Papua | Budaya Indonesia

GASING

Papua perlu guru-guru yang berkualitas dan berdedikasi. Meskipun dapat berasal dari luar dan dalam Papua, namun opsi yang terbaik adalah guru lokal yang berasal dari Papua. Atas kebutuhan tersebut, kita perlu mendorong pelajardi wilayah Papua untuk menjadi guru. Guna mempercepat peningkatan kemampuan berhitung di seluruh Papua,guru perlu dibekali dengan cara mengajar yang GASING (Gampang, Asyik dan Menyenangkan) yang memungkinkan setiap siswa belajar secara mudah sehingga tidak ada alasan mereka tidak mampu atau tidak mengerti. Bila materi pelajaran disampaikan dengan mudah, maka siswa akan asyik dalam belajar.Siswa akan dengan senang hati  mengerjakan ratusan soal atau tugas-tugas yang diberikan ketika belajar menjadi sangat menyenangkan bila metode ini diterapkan disekolah-sekolah,maka pembelajaran 8 jam per hari bukanlah merupakan suatu masalah.

Belum lama ini kami bekerjasama dengan Yayasan Pendidikan Astra untuk melatih 18 guru dari 6 kabupaten (Kupang, Bogor, Lampung Selatan, Pacitan, Gunung Kidul, Bantul). Tiap guru masing-masing membawa 1 murid (kelas 4-5) yang dianggapnya “bodoh” di daerahnya. Guru-guru dilatih bagaimana mengajar secara GASING dengan fokus pada berhitung atau aritmatika (penjumlahan, pengurangan, perkalian,pembagian). Targetnya adalah, setiap anak mampu berhitung secara cepat (mencongak).  Setiap pagi selesai dilatih, guru mempraktekan apa yang dipelajarinya kepada anak didiknya. Awalnya orang pesimis, apa mungkin anak yang dikatakan ‘bodoh” ini bisa jadi pintar?  Namun selama 2 bulan, pengamat dari Yayasan Pendidikan Astra melaporkan bahwa anak-anak yang semula takut Matematika, kini sudah mahir berhitung dan sangat menyukai Matematika, bahkan beberapa dari mereka bercita-cita ingin jadi profesor di bidang Matematika. Anak-anak yang mewakili Kabupaten Kupang dalam Olimpiade Sains Nasional Tingkat Provinsi adalah anak-anak yang dilatih dengan metode GASING.

Poto : Anak-anak Papua

Berhitung

Berhitung adalah modal dasar untuk menguasai matematika dan pelajaran eksak lainnya seperti Fisika dan Kimia. Keberhasilan kami melatih anak-anak Papua sehingga menjadi juara berbagai lomba sains dan matematika, dimulai dengan keberhasilan melatih mereka menguasai berhitung. Mereka mencintai pelajaran sejak mengenal metode GASING.

Nah kembali sekarang, apakah kita mau membangun pendidikan di Papua? Saya pikir jalan yang paling mudah adalah mulai dengan Papua Pandai Berhitung. Setiap anak di Papua harus mampu berhitung penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian secara cepat. Kita buat seluruh anak Papua melek berhitung. Tidak butuh waktu lama untuk menguasai berhitung. Dibutuhkan waktu 2-3 bulan untuk setiap anak mampu berhitung dengan cepat.
Kita bisa mulai dalam situasi pandemi Covid–19 ini untuk meningkatkan kualitas guru di Papua melalui program Papua Pandai Berhitung dengan melatih beberapa guru dari setiap kabupaten di Papua melalui platform sosial media atau komunikasi digital seperti WA Group selama 2-3 bulan. Ini baru permulaan. Guru yang sudah dilatih kemudian dapat mengimbaskannya kepada guru-guru lain di daerahnya masing-masing. Disamping Papua Pandai Berhitung, Pemerintah di Papua perlu menyiapkan anak-anak asli Papua untuk menjadi guru-guru yang berkualitas. Guru-guru ini harus yang punya hati untuk kembali ke Papua dan membangun pendidikan di Papua. Untuk siswa dengan motivasi tinggi seperti Yane Ansanay (katakan 2 anak per kabupaten), Pemerintah perlu punya program khusus. Mereka bisa disiapkan selama 2-3 tahun sebelum dikirim ke universitas terbaik di dalam ataupun di luar negeri. Mereka inilah nanti yang akan membantu Pemerintah untuk membangun wilayah Papua.

Bila pemerintah pusat dan daerah berkomitmen menangani pendidikan di Papua, maka tidak ada yang tidak mungkin. Suatu saat pendidikan di Papua tidak kalah dengan pendidikan di provinsi lain di Indonesia. Kini sudah saatnya kita memajukan pendidikan di Papua seiring gebrakan pembangunan  untuk membuka  daerah terisolir yang diusung oleh Presiden Joko Widodo.